Kapolres Aceh Jaya Hadiri Dialog Interaktif BNNP Aceh di TPI Rigaih, Perkuat Sinergi Cegah Peredaran Narkoba di Jalur Laut
Calang — Upaya pencegahan peredaran gelap narkotika melalui jalur laut terus diperkuat di wilayah pesisir Aceh Jaya. Hal itu terlihat dalam dialog interaktif yang digelar Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh bersama para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan Rigaih, Desa Lhok Timon, Kecamatan Setia Bakti, Senin (4/5/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.
Mengusung tema “Kerawanan Laut sebagai Jalur Peredaran Narkoba di Aceh”, kegiatan ini menjadi langkah konkret memperkuat sinergi antara aparat penegak hukum, pemerintah daerah, lembaga adat laut, serta masyarakat pesisir dalam mengantisipasi ancaman jaringan narkotika yang memanfaatkan jalur perairan, khususnya di wilayah Aceh Jaya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., Plt. Kepala BNN Kota Banda Aceh Kombes Pol. Eko Purwanto, S.Ag., M.H., Kapolres Aceh Jaya AKBP Zulfa Renaldo, S.I.K., M.Si., Kabag Ops Polres Aceh Jaya, Kasat Narkoba Polres Aceh Jaya, Kapolsek Setia Bakti, KBO Narkoba Polres Aceh Jaya, Danpos Airud Aceh Jaya, Bhabinkamtibmas Desa Lhok Timon, Panglima Laot Kabupaten Aceh Jaya, Panglima Laot Lhok Rigaih, Keuchik Desa Lhok Timon, mahasiswa KPM STAIN Teungku Dirundeng, para nelayan, serta pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA.
Dalam sambutannya, Panglima Laot Kabupaten Aceh Jaya Jafaruddin menegaskan bahwa masyarakat adat laut memiliki tanggung jawab moral dan adat dalam menjaga keamanan wilayah perairan yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pesisir.
Menurutnya, luasnya wilayah laut di Aceh Jaya bukan hanya menyimpan potensi ekonomi, tetapi juga menyimpan kerawanan yang dapat dimanfaatkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab sebagai jalur masuk dan peredaran narkotika.
“Lembaga adat laut tidak akan mentolerir segala bentuk aktivitas ilegal di wilayah perairan, termasuk peredaran gelap narkotika. Panglima Laot bersama para nelayan siap bersinergi dengan aparat penegak hukum untuk memberikan informasi serta ikut mencegah masuknya narkoba melalui laut,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh Brigjen Pol. Dedy Tabrani menjelaskan bahwa wilayah pesisir Aceh, khususnya Aceh Jaya, memiliki garis pantai panjang yang berbatasan langsung dengan jalur perairan internasional. Kondisi tersebut menjadikan kawasan laut sebagai salah satu titik rawan masuknya narkotika.
Menurutnya, jaringan narkotika internasional kerap memanfaatkan jalur laut karena dinilai lebih sulit diawasi, memiliki banyak titik pendaratan ilegal, dan minim pengawasan di sejumlah kawasan terpencil.
“BNNP bersama instansi terkait dan pemerintah daerah terus memperkuat pengawasan di wilayah perairan. Namun upaya ini tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat, terutama para nelayan yang setiap hari beraktivitas di laut,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Kapolres Aceh Jaya AKBP Zulfa Renaldo menegaskan bahwa Kepolisian Resor Aceh Jaya siap memperkuat pengawasan dan penindakan terhadap segala bentuk penyalahgunaan jalur laut untuk peredaran narkoba.
Menurut Kapolres, wilayah pesisir Aceh Jaya memiliki posisi strategis sehingga membutuhkan kewaspadaan bersama dari seluruh unsur, terutama masyarakat nelayan yang selama ini menjadi mata dan telinga di lapangan.
“Nelayan merupakan mitra penting kepolisian dalam mendeteksi dini setiap aktivitas mencurigakan di wilayah perairan. Kami mengajak seluruh masyarakat pesisir untuk tidak ragu memberikan informasi kepada aparat apabila menemukan indikasi penyelundupan narkotika melalui jalur laut,” ujar Zulfa Renaldo.
Ia menambahkan, pemberantasan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
“Melalui sinergi antara kepolisian, BNN, Panglima Laot, pemerintah gampong, dan masyarakat nelayan, kita berharap wilayah perairan Aceh Jaya dapat semakin aman serta terbebas dari ancaman jaringan narkotika,” tegasnya.
Selain dialog bersama nelayan, kegiatan tersebut juga diisi dengan santunan kepada anak yatim oleh Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh, penyerahan cendera mata kepada para nelayan, serta ditutup dengan doa bersama.
Suasana dialog berlangsung hangat dan interaktif. Para nelayan diberi ruang untuk menyampaikan pandangan, pengalaman di lapangan, hingga harapan mereka terkait penguatan pengawasan wilayah laut dari ancaman peredaran gelap narkotika.
Dialog interaktif di Tempat Pelelangan Ikan Rigaih ini menjadi bagian dari langkah preventif Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat pesisir. Melalui kolaborasi erat antara aparat, lembaga adat, dan nelayan, diharapkan perairan Aceh Jaya semakin terlindungi dari ancaman penyalahgunaan jalur laut oleh jaringan narkotika.